SURABAYA – Kasus seorang nenek lansia yang ditemukan terlantar dan sakit parah di Lantai 2 Pasar Keputran, Surabaya, pada Senin malam (1/6/2026), kini memasuki tahap intensifikasi pencarian identitas. Berkat Respon dan perhatian dari Erick Komala SH.MH Anggota Komisi A DPRD Jawa Timur melalui Staff Lapangannya proses evakuasi dan koordinasi lintas instansi berjalan cepat hingga korban mendapatkan perawatan di RSUD Dr. Soetomo.
Risky Staff Lapangan Erick Komala menuturkan pentingnya prosedur administrasi dan koordinasi antar-instansi. Setelah mengevakuasi korban ke RSUD Dr. Soetomo, ia langsung melaporkan kasus ini ke Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya dan Dinsos Jatim serta meluncur ke Kantor Kelurahan Keputran.
“Karena beliau tidak memiliki dokumen identitas sama sekali—tidak ada KTP, KK, atau tas pribadi—kami butuh bantuan teknis dari pemerintah. Saya segera berkoordinasi dengan Dinsos dan pihak kelurahan untuk langkah selanjutnya,” ujar Risky Eka saat dikonfirmasi awak media di RSUD Dr. Soetomo, Rabu (3/6/2026).

Setelah berkoordinasi dengan pihak terkait Risky Eka kemudian melaporkan perkembangan dilapangan pada Erick Komala SH.MH Erko sapaan akrabnya yang kerab membantu masyarakat kelas bawah memerintahkan agar segera ditindak lanjuti supaya ibu sunarmi bisa ditangani dengan baik.
Upaya Pelacakan Melalui Data Biometrik
Kendala utama dalam kasus ini adalah nihilnya data diri korban. Untuk mengatasi hal tersebut, Risky Eka meminta arahan teknis kepada pihak Kelurahan Keputran terkait pendataan biometrik (sidik jari dan rekam wajah).
Langkah ini diambil untuk mencocokkan data korban dengan Database Kependudukan (Dukcapil) secara nasional. “Saya langsung bergegas ke kelurahan untuk minta panduan soal biometrik. Harapannya, melalui sidik jari atau rekam wajah, kita bisa menemukan asal-usul beliau. Apakah beliau penduduk asli Keputran, atau mungkin dari daerah lain yang tersesat,” jelas Riski.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan dari Dinsos Kota Surabaya dan petugas kelurahan sedang memproses data biometrik tersebut. Pihak RSUD Dr. Soetomo sendiri telah memberikan pelayanan medis optimal, dengan kondisi korban yang dilaporkan stabil meski masih memerlukan observasi akibat dehidrasi dan kelelahan fisik.
Sinergi Warga dan Institusi
Kasus ini menyoroti pentingnya sinergi antara kepedulian warga dengan Pemerintah mengingat polemik banyaknya warga siluman atau warga yang tidak memiliki indentitas dikota Surabaya masih banyak terlepas mereka warga asli Surabaya ataupun warga dari kota lain yang tinggal di Surabaya sudah puluhan Tahun dengan status tunawisma atau T4 tanpa terdata oleh pemerintah setempat.
Risky Eka menghimbau agar masyarakat dan pengelola pasar lebih peka terhadap keberadaan warga rentan. “Jangan biarkan ada warga yang terlantar sendirian. Jika melihat ada orang tua yang tampak bingung atau sakit, segera laporkan ke petugas keamanan atau hubungi 112 atau Dinsos baik dinsos kota surabaya maupun dinsos Jatim. Kita butuh mata dan telinga bersama untuk melindungi mereka,” pungkasnya.(Miskawi)

