SURABAYA, tuguSurabaya.site – Pertemuan Komisi E DPRD Jawa Timur dengan para budayawan berfokus pada dorongan agar Aksara Jawa dimasukkan ke dalam Kurikulum Pendidikan serta usulan pembentukan Perda Masyarakat Adat dan Museum Desa untuk melestarikan akan Warisan Budaya Bumi Majapahit, hal ini dilaksanakan di Gedung DPRD Jawa Timur, di ruang Komisi E, pada Selasa (14/07/26), pukul 12.00 WIB.
Agenda pertemuan ini, dihadiri oleh Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP. (Ketua Komisi E DPRD Jatim), dan beberapa Anggota Komisi E, Taufik Monyong (Budayawan) beserta delegasi Paguyuban Aksara Jawa Nusantaera, Perwakilan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur , Perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur, serta Tokoh tokoh Budayawan.
Dalam pertemuan ini, Taufik Monyong (Budayawan) memaparkan apa yang diimpikan dan diharapkan untuk bisa kembali mengangkat Aksara Jawa dan Budaya kita kembali kepada para Generasi Muda, dengan metode metode pembelajaran yang lebih baik dan maju, dengan mengenalkan metode pembelajaran Aksara Jawa berbasis kartu ke dalam kurikulum pembelajaran di Sekolah sekolah.
Dari pemaparan oleh Saudara Taufik Monyong (Budayawan), dengan sangat detil dan menunjukkan bahan peraga berupa Kartu hasil Riset dan pemikiran Beliau dan sudah di Hak Patenkan kepada Komisi E, terutama Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno, mendapat apresiasi yang cukup baik dan bisa diterima,
Dari hasil pertemuan ini Komisi E DPRD Jawa Timur meminta Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur untuk segera mengintegrasikan tentang metode pembelajaran Aksara Jawa berbasis kartu ke dalam kurikulum di tingkat pendidikan SMA dan SMK. Upaya strategis ini untuk memperkuat pendidikan akan karakter sekaligus menjaga Warisan Budaya Nusantara di tengah derasnya arus modernisasi dari Luar.
Kebijakan tersebut diperkuat oleh payung Hukum Peraturan Gubernur (Pergub) Jawa Timur Nomor 36 Tahun 2024 yang mengatur tentang Muatan Lokal (Mulok) Bahasa dan Aksara Jawa. Melalui regulasi ini, metode inovatif tersebut akan disebarluaskan kepada para pendidik di lapangan.
Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno menjelaskan bahwa skema penerapan metode ini akan dimulai melalui pelatihan dari Guru secara masif. Pihaknya menginstruksikan agar implementasi di sekolah diawali lewat Forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
“Penerapannya nanti tinggal dimulai dari MGMP. Guru mata pelajaran diberikan tutorial terlebih dahulu melalui sistem Training of Trainers (ToT), baru kemudian diajarkan di sekolah sekolah. Muatan lokal ini nantinya mendapat porsi sebanding dengan mata pelajaran konvensional, biasanya sekitar dua jam pelajaran,” ujar Sri Untari saat ditemui usai audiensi di Gedung DPRD Jatim.
Disini Taufik Monyong menegaskan, pentingnya akan penerapan kurikulum ini adalah penguatan karakter dan jati diri pada Generasi Muda. Menurut Beliau, sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempertahankan Budaya Bangsanya, seperti aksaranya sendiri, halnya ini diterapkan oleh Negara Jepang dengan Kanji atau Rusia dengan huruf Sirilik. Ia juga meluruskan miskonsepsi sejarah terkait Aksara Jawa.
“Huruf Jawa itu bukan sekadar huruf biasa, tapi itu Carakan yang dulu dipakai di seluruh Nusantara pada masa kejayaan Era Kerajaan Majapahit ke bawah. Lewat aksara, berbagai filosofi kehidupan diimplementasikan ke dalam simbol-simbolnya. Kita ingin mengembalikan jati diri Bangsa Kita agar tidak hilang di Masa Modern ini,” tegas Budayawan Cak Taufik tersebut.
Langkah ini Kami hadiran dalam inovasi berbentuk Kartu Aksara Jawa, Taufik Monyong mengungkapkan bahwa metode kartu ini lahir dari keresahan kultural yang mendalam. Kartu yang diklaim sebagai satu-satunya di dunia ini dirancang untuk mendobrak ketergantungan para Generasi Muda pada produk permainan Barat atau Budaya Luar.
“Kami melakukan riset mendalam selama Lima tahun lebih bahwa ternyata bangsa kita ini seolah dijajah oleh dominasi huruf Latin di sekolah. Kartu ini kami ciptakan sebagai tawaran balik, sebuah konsep kesadaran untuk mengubah cara berpikir dan ketergantungan pada ajaran Barat,” ungkap Taufik yang juga dikenal sebagai seorang pelukis dan Budayawan.
Berbeda dengan kartu remi konvensional yang hanya berjumlah 54 kartu, inovasi lokal ini terdiri dari 94 kartu. Kartu-kartu tersebut memuat unsur Aksara sebagai manifestasi batin dan Wilangan (bilangan) yang mengajarkan konsep ruang dan waktu tradisional, seperti Saptoworo dan Pancawaro, serta filosofi tokoh pewayangan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Kartu ini didesain serbaguna dengan delapan format permainan, mulai dari edukasi umum hingga pembacaan karakter spiritual.
Kelebihan lain dari proyek kebudayaan ini adalah kemandirian produksinya. Taufik memastikan bahwa para penggiat budaya dan pengusaha lokal telah mendirikan pabrik sendiri untuk memproduksi kartu tersebut secara massal, sehingga tidak akan membebani anggaran belanja pemerintah.
“Kami sudah siapkan stok pabriknya, minta berapa pun yang dibutuhkan Pemerintah, kami siap. Kami tidak tergantung pada anggaran Negara, karena ini persembahan untuk mengembalikan marwah para leluhur Kita,” tambah Taufik.
Proses sinkronisasi metode pembelajaran ini dijadwalkan masuk dalam tahap koordinasi final bersama jajaran Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur sebelum diluncurkan secara resmi pada 23 Juli 2026 mendatang. Langkah ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan literasi kuno Nusantara yang aplikatif di Era Digital.
Semoga Bangsa Indonesia ini kembali Jaya dan Maju berkat melestarikan peninggalan para leluhur kita di Nusantara ini. (Arifin)

